in

Kala Sang 'Malaikat Pelindung' Sukarno Menggoda Mata – RadioJFM





Jakarta – Lukisan Dewi Sukarno dengan Sukarno tengah menjadi bahan perbincangan. Dalam lukisan karya Ronald Manullang, Dewi digambarkan tanpa balutan busana. Bibirnya memulas senyum sambil memegangi payung di dekat Sukarno.

Kehebohan itu muncul saat artis Pevita Pearce mengunggah lewat akun Instargram miliknya (@pevpearce). “Dewi Soekarno & Soekarno by Ronald Manullang. My favorite painting of all time,” kata Pevita.

Publik pun menanggapi dengan beragam komentar. Mulai dari soal etika hingga nilai yang dianut di Indonesia. Lalu bagaimana perspektif seni lukisan itu dari sang pelukis, Ronald Manullang?

Awal mula lukisan Dewi Sukarno dengan tokoh proklamator itu berjalan lewat proses yang cukup panjang. Ronald mengatakan, dirinya memang ingin membuat sebuah karya lukisan dengan objek Sukarno. Namun bukan hanya sembarang lukisan biasa. Dia ingin lukisan tentang Sukarno bisa ‘Out of The Box’. Berbeda dari yang kebanyakan.

“Saya memang ingin buat lukisan Sukarno. Tapi maunya jangan yang biasa. Kan kebanyakan lukisan Sukarno itu kalau nggak pidato, pidato lagi. Paling hebat lukisan Sukarno itu karya Basuki Abdullah yang high profile,” kata Ronald saat berbincang dengan detikcom, Senin (13/3/2017).

Untuk mencari ide segar, Ronald mendatangi sejumlah tempat bersejarah di Jakarta. Menelusuri rekam jejak sejarah Sukarno. Mulai dari Tugu Proklamasi hingga Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Ronald juga mencari referensi dari beberapa buku.

Hingga akhirnya inspirasi itu muncul saat dia mendatangi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

“Waktu di museum, saya melihat beberapa kali yang istimewa dari Sukarno. Terbesit Sukarno ini kalau orang bilang punya ‘malaikat penuntun’ atau guardian angel. Semua orang punya malaikat penuntun,” ujar Ronald.

“Waktu itu kondisi di museum sepi. Tempat dia menandatangani naskah proklamasi, di situ saya melihat seolah-olah ada beliau. Saya berimajinasi. Ada malaikat di dekat beliau. Di dalam rapat itu ada 36 orang yang rapat untuk membuat persiapan kemerdekaan. Saya merinding melihat dia mau menandatangani. Pasti ada guardian angel,” lanjutnya.

Dewi Sukarno dipilih menjadi malaikat penuntun presiden pertama RI itu. Alasannya sosok malaikat yang melindungi Sukarno haruslah wanita yang berparas cantik dan menarik. Dari sekian orang dekat Sukarno, Dewi lah yang dinilai tepat oleh Ronald.

“Saya pikir pasti ada malaikat dan cocok untuk pendampingnya. Dia invisible, tidak terlihat. Akhirnya saya yakin pasti ada nih malaikatnya seorang yang cantik. Tidak jauh-jauh dari dia (Sukarno). Setelah dilihat-lihat, saya juga ingat bukunya Bu Dewi yakni Madame de Syuga. Saya cari lah itu,” ulas Ronald.

“Madame de Syuga memang tidak kebetulan disebut seorang dewi. Dari namanya sudah cocok. Begitupun gesturenya. Akhirnya saya angkat. Saya cari beberapa posisi tapi nggak bisa persis karena punya copyright,” kata Ronald.

Lukisan bergaya realisme kontemporer itu dibuat oleh Ronald pada 2012 lalu. Satu hal yang menggelitik pertanyaan adalah tampilan Dewi Sukarno yang tanpa dibalut busana alias telanjang. Di tangan kanannya memegang kimono berwarna hitam. Wanita berdarah Jepang itu juga memayungi Sukarno yang tampak duduk memegang buku dengan tatapan tegas.

Total ada 5 lukisan Dewi Sukarno dan Sukarno dengan berbagai posisi yang berbeda.

“Ketelanjangan itu saya lihat dari artistik. Kalau seandainya ada malaikat di depan atau belakang kita, sementara kita dalam bahaya kita dilindungi. Malaikatnya tidak kelihatan. Karena tidak kelihatan makanya tidak perlu baju. Orang lahir juga kan telanjang. Jadi nude atau ketelanjangan itu kemurnian,” tutur Ronald soal esensi Dewi Sukarno yang tanpa busana di lukisan.

Lukisan bertema ‘Under My Umbrella’ ini telah dipamerkan di sejumlah kota di berbagai negara seperti London, Sydney dan Singapura. “Di luar negeri, lukisan ini banyak mendapat apresiasi,” ucap Ronald.

Kini di Indonesia, lukisan tersebut tengah menjadi bahan perbincangan. Ronald menyayangkan sebab karyanya tersebut dibuat dengan dasar seni tanpa ada maksud lain.

“Saya pikir agak sayang melihat terlalu di permukaannya. Belum melihat isinya. Memang barangkali segmennya belum ke sana karena budaya berbeda,” ungkapnya.

(nkn/van)

Radio JFM – Source