in

Kisah Brigadir Rosyid, Polisi yang Pandai Bikin Telur Asin – RadioJFM





Jakarta – Seorang polisi berpangkat brigadir bernama Muhaimin Nur Rosyid (32) ini memiliki keahlian membuat telur asin. Kemampuan ini kemudian membuatnya yakin untuk menjalani usaha sebagai penjual telur asin.

Rosyid dalam kesehariannya menjabat sebagai Banit Provos di Polsek Tanjung Priok. Ia mengatakan kemampuannya mengolah telur bebek menjadi telur asin yang enak didapatkan dengan belajar terus-menerus.

“Membuat telur asin ini saya hanya autodidak. Saya belajar sendiri sambil tanya-tanya sama teman,” kata Rosyid di rumahnya di Perumahan Vila Indah Pulo Timaha Blok E8 nomor 22 RT 08/21, Kedungjaya, Babelan Kota, Kabupaten Bekasi Utara, Jawa Barat, Rabu (8/3/2017).

Ia mengatakan, dalam memproduksi telur asin, setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Hal ini diawali dengan menyortir telur bebek yang dipesannya.

“Ketika telur mentah yang akan diolah datang, saya cek dulu. Apakah di telur itu ada retak, apakah sudah ada yang busuk,” tuturnya.

Untuk mengetahui telur yang busuk, Rosyid akan mencuci telur-telur tersebut. Kemudian menggunakan lampu, dia dapat melihat isi telur. Apabila di dalam telur ada bercak atau titik hitam, maka telur tersebut tidak digunakan.

Telur yang digunakannya pun tidak sembarangan. Rosyid mengatakan hanya mengambil telur dari bebek yang memang diternakkan untuk diambil telurnya.

“Saya tidak pakai telur dari bebek liar. Karena nanti kuning telurnya kurang bagus kalau sudah jadi. Biasanya dari bebek liar, kuning telurnya gak merah dan gak berminyak,” ujar pria asal Ngawi ini.

Kisah Brigadir Rosyid, Polisi yang Pandai Bikin Telur AsinFoto: Jabbar Ramdhani/detikcom

Proses sortir selesai, kemudian dia melapisi telur dengan adonan yang terbuat dari tanah merah dan garam. Kemudian telur ini dibiarkan dalam proses pengasinan selama 8 sampai 10 hari.

“Kita tidak sembarang pakai tanah merah. Kita beli yang super biar pas dipakai bungkus telur, bisa bagus juga telurnya. Garam yang kita pakai juga dari Jepara, garam kristal,” kata dia.

Setelah selesai masa pengasinan, telur tersebut kembali dicuci dan diterawang menggunakan lampu. Telur pun lantas direbusnya. Rosyid juga menggunakan rempah-rempah ketika merebus. Menurutnya, hal itu dapat menambah cita rasa ketika telur matang dimakan.

Terhitung, sudah selama delapan bulan Rosyid menjalani usaha ini. Dia menceritakan, pertama kali produksi, ada sebanyak 1.200 butir telur yang diolahnya.

Kisah Brigadir Rosyid, Polisi yang Pandai Bikin Telur AsinFoto: Jabbar Ramdhani/detikcom

Telur yang habis dijualnya itu, membuatnya semakin yakin untuk lanjut berproduksi. Sebelum mulai memproduksi telur asin sendiri, ia hanya membeli telur asin mentah untuk dijual. Tak disangka, telur yang dibawanya selalu habis.

“Awalnya saya punya teman. Dia usaha telur asin. Saya diajak untuk usaha. Saya beli telur mentah dari dia tapi sudah asin. Saya rebus sendiri lalu saya jual. Saya bawa 200 butir habis. Saya bawa 300 sampai 400 habis. Lalu kata dia ‘kenapa nggak produksi sendiri?’. Akhirnya saya coba,” ucapnya.

Menjalani usaha ini, Rosyid mengaku tidak ada masalah dengan pekerjaannya. Tugas dinas sebagai polisi masih dapat dijalankannya dengan baik hingga saat ini.

“Alhamdulillah usaha saya ini tidak mengganggu kerja. Kapolsek juga mendukung usaha saya. Saya berangkat pagi, sampai kantor pukul 06.00 WIB. Berangkat kerja, saya bawa telur untuk distribusi. Pulang kerja baru produksi lagi di rumah,” ujar lulus sekolah polisi 2004 angkatan 26 atau Mandala Satya Tama (MST).

Dalam menjalankan usahanya, Rosyid dibantu oleh sang istri bernama Muflikhatur Rofiah. Laiknya telur asin lain yang ‘bertato’, telur asin hasil produksinya memiliki cap “Bu Opik” yang tak lain dari nama panggilan istrinya.

Selain itu, Rosyid juga dibantu oleh 3 pekerja lainnya. Dalam seminggu, ia dapat menjual sebanyak 2.000 butir telur asin. Dalam sebulan, Rosyid mengaku memiliki omzet mencapai Rp 8 juta. Telur tersebut didistribusikan ke Bekasi dan Jakarta Utara.

(jbr/idh)

Radio JFM – Source