in

Kisah Toni, Pengrajin Emas yang Bekerja Mulai dari Lulus SD – RadioJFM





Serang – Sejak masih sekolah dasar (SD), Toni (35), warga Cibagus Taktakan, Serang, selalu memperhatikan orang tuanya membuat cincin dan gelang. Pengamatan sehari-hari itu kemudian membuatnya mahir sampai menjadi pengrajin emas.

“Dari saya kecil, dari lulus SD belajar dari orang tua. Di Taktakan kayak gini semuanya,” ujar Toni bercerita kepada detikcom soal keahliannya membuat cincin dan kalung emas, di Kota Serang, Sabtu (11/3/2017).

Di rumahnya, Toni menyulap kamar belakang untuk dijadikan bengkel pembuatan cincin dan kalung emas. Lima meja menempel ke tembok sambil ada penerangan di atasnya. Tiga orang pemuda duduk di samping Toni sedang menggulung emas kecil untuk kalung. Dua alat yang disebut urutan dan gilingan berdiri di belakang meja. Selain itu, ada tabung gas yang digunakan untuk melebur emas menjadi lunak.

Menurut Toni, saat ini kebetulan sedang ada pesanan dari seorang pemilik toko emas dari pasar di Serang. Ia diminta membuat cincin dari emas Singapura mulai dari 3 gram dan kalung yang kadar emasnya 5 gram. Ada sekitar 3 ons emas batangan yang ia terima untuk dibuat cincin dan kalung.

Jika sedang membuat cincin emas, Toni biasanya paling mahir membuat cincin pesanan. Begitu tingkat kerumitan semakin tinggi, ia juga mendapatkan upah lebih banyak. Tiga pemuda tanggung yang ada di bengkelnya, bekerja untuk merangkai kalung atau merapikan cetakan.

“Cincin biasa bisa 20 sampai 25 ribu. Kalau pesanan bisa 200 atau 300 ribu,” ujarnya soal harga pembuatan.

Jika sedang ada pesanan, ia mengaku dapat bekerja dari 10 sampai 12 jam sehari. Kadang-kadang, ia harus bekerja sampai pukul 12 malam karena mengejar pesanan. Meski pun seharian di bengkel pengap, ia mengaku sudah terbiasa.

Toni mengatakan pengrajin emas di kampungnya memang musiman. Pesanan paling banyak biasanya menjelang atau pas bulan puasa. Pemilik toko emas banyak datang dan minta dibuatkan cincin dan kalung. Apalagi, setelah Lebaran banyak warga yang membeli emas untuk menikah.

Namun sayangnya, menurut Toni, jika pesanan kosong, ia dan pembantunya mesti bekerja hal lain. Kalau sedang sepi order, ia mengaku bekerja mencari barang bekas.

“Kalau nggak ada order ya kerja lain. Kalau saya ngerongsok jual barang bekas,” tutur Toni.

Meskipun dikenal sebagai kampung pengrajin cincin emas, Toni mengatakan banyak warga yang sudah alih profesi. Ada beberapa warga yang sudah meninggalkan profesi turunan ini karena masalah ekonomi. Jika dihitung ada 5 atau 6 rumah yang masih mengerjakan orderan membuat cincin emas.

Di bengkelnya sendiri, Toni mengatakan membuka kepada siapa saja yang ingin belajar menjadi pengrajin emas. Makanya, ada beberapa orang yang belajar ikut-ikutan bagaimana cara membuat cincin.

“Di tempat saya buat siapa aja. Siapa yang mau belajar buat cincin,” ujarnya.

(bri/irm)

Radio JFM – Source