in

Pelanggan Adalah Raja: Benarkah? – RadioJFM

Anda tentu familiar dengan ungkapan “Pelanggan adalah raja” atau “Pelanggan selalu benar”. Slogan ini dasarnya menyatakan bahwa dalam keadaan apapun juga, pegawai harus selalu menomorsatukan kepuasan pelanggan. Di beberapa situasi, pihak staf bahkan harus tunduk sepenuhnya, walau si pelangganlah yang sebetulnya salah.

Goal dari seluruh jenis bisnis tentu adalah untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Karenanya pola pikir yang menjunjung tinggi kata-kata pelanggan umumnya bertujuan agar pelanggan yang puas akan merekomendasikan perusahaan ini kepada kenalannya atau setidaknya kembali mengonsumsi produk tersebut.

Pola pikir yang berat berpihak pada pihak pelanggan tampaknya adalah ide yang baik karena membuat pelanggan bahagia. Namun jika dilihat dari sisi lain, konsep ini tidak selamanya menguntungkan karena cenderung mengutamakan profit jangka pendek dari kepuasan sedikit pelanggan.

Mengapa begitu?

1. Pegawai Anda berisiko mendapat tekanan berat

Fokus terhadap konsep “selalu benar” untuk membuat pelanggan puas ini berisiko menciptakan tekanan pada pegawai saat bekerja. Dengan memaparkan pegawai pada tuntutan untuk selalu “mengalah” pada konsumer, Anda menciptakan beban mental besar dalam keseharian kerja mereka.

Padahal untuk menciptakan pelayanan konsumer yang lebih baik, Anda akan mencapai kesuksesan lebih besar jika memelihara kesejahteraan pegawai Anda. Pegawai yang lebih bahagia di tempat kerja cenderung akan memberikan pelayanan lebih baik. Mereka lebih empatik terhadap keluhan dan cenderung lebih termotivasi untuk melakukan pekerjaannya dengan baik.

Di tengah mengejar goal pelanggan bahagia, jangan lupakan pegawai Anda karena merekalah aset perusahaan paling berharga. Hal-hal kecil seperti memberi pujian dan dukungan sehari-hari besar efeknya.

Related Posts


Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami


Read This Next


Radio JFM – Source