in

Waspada Demam Berdarah Saat Pergantian Musim

Kondisi cuaca kadang panas kadang hujan akhir-akhir ini patut diwaspadai dengan meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota semarang.

waspada-demam-berdarah-saat-pergantian-musim

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Widoyono mengatakan kondisi cuaca itu disebut kemarau basah yang disukai nyamuk Aedes Aegypti untuk berkembang biak.

Widoyono mengatakan dari Januari – September atau minggu ke 35 di 2016, sudah sebanyak 36 warga meninggal dari 1.822 kasus DBD di Kota Semarang. “Kemarau basah kondusif untuk nyamuk penyebab demam berdarah berkembang biak sehingga kasusnya mengalami peningkatan. Pada saat yang sama, tahun lalu ada 1.620 kasus, sekarang per September 2016 sudah mencapai 1.822 kasus,” ujarnya.

Peningkatan kasus DBD, kata Widoyono, tidak hanya terjadi di Kota Semarang, namun menjadi fenomena nasional. Ia meminta masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan pengasapan (fogging ), tapi pemberantasan nyamuk dengan gerakan 3 M, yakni menutup, menguras, dan mengubur sebagai langkah efektif dan murah yang dapat dilakukan

“Tindakan pencegahan ini dapat dilakukan secara mandiri. Berbagai uji coba lainnya untuk penanganan kasus ini juga sudah dilakukan di antaranya program pemakaian celana panjang untuk anak SD dan SMP, pendampingan petugas kesehatan, hingga teknologi pelepasan nyamuk mandul bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Teknologi serangga mandul dengan BATAN ini, begitu pemkot mau stok serangga, Batannya tidak sanggup menyediakan,” kata Widoyono.

Berdasarkan data DKK Semarang, jumlah penderita minggu ke-35 2016 lebih tinggi dibanding Minggu ke-38 2015 mencapai 1.631 kasus dengan korban meninggal 20 orang. “Angka ini juga lebih tinggi dibanding jumlah penderita secara keseluruhan selama 2015 yang mencapai 1.737 kasus dan korban meninggal 21 orang,” ujarnya.

Widoyono mengatakan ada lima wilayah kecamatan dengan kasus DBD tertinggi di Kota Semarang hingga September 2016, yakni Kecamatan Tembalang dengan 264 penderita, Pedurungan 222 penderita, Ngaliyan 174 penderita, Banyumanik 171 penderita, dan Semarang Barat 153 penderita. “Meski jumlah kasus meningkat namun fenomena ini belum dapat ditetapkan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) DBD di Kota Semarang,” ujarnya.